Random

Memuat...

Silahkan ketik keyword Anda

Arsip

Rabu, 15 Agustus 2012

Benarkah anda sudah terkena kewajiban zakat?

Pernah salah seorang teman bertanya tentang berapa besaran nisab zakat (khusus untuk zakat harta). Pertanyaan yang bikin saya bingung, namun setelah saya coba pahami lagi, ternyata maksud pertanyaan tersebut adalah, "berapa besaran zakat yang harus dibayar apabila telah sampai nisabnya?"

Pertanyaan tersebut akhirnya terjawab dengan ulasan yang cukup mudah dimengerti, dimana ulasan ini berasal dari tulisan ustad Kholid Syamsudi, pada Majalah As-Sunnah edisi 6 Tahun VII/2003.

Adapun penjelasan mendasar tentang zakat harta ini adalah sebagai berikut :

Syarat wajib Zakat :
  • Islam
  • Merdeka
  • Berakal/ Baligh
  • Memiliki Nishab. Makna nishab di sini adalah ukuran atau batas terendah yang telah ditetapkan, untuk menjadi pedoman menentukan kewajiban mengeluarkan zakat bagi yang memiliki harta jika telah sampai ukuran tersebut. Orang yang memiliki harta dan telah mencapai nishab atau lebih, diwajibkan mengeluarkan zakat dengan dasar firman Allah,
“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.” (Qs. Al Baqarah: 219)

Makna al afwu (dalam ayat tersebut-red), adalah harta yang telah melebihi kebutuhan. Dan ini merupakan penetapan nishab sebagai ukuran kekayaan seseorang.

Syarat-syarat nishab adalah sebagai berikut:

Harta tersebut di luar kebutuhan yang harus dipenuhi seseorang, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan alat yang dipergunakan untuk mata pencaharian.

Harta yang akan dizakati telah berjalan selama satu tahun (haul) terhitung dari hari kepemilikan nishab dengan dalil hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

"Tidak ada zakat atas harta, kecuali yang telah melampaui satu haul (satu tahun)." [HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al AlBani]

Dikecualikan dari hal ini, yaitu zakat pertanian dan buah-buahan, karena zakat pertanian dan buah-buahan diambil ketika panen. Demikian juga zakat harta karun (rikaz) yang diambil ketika menemukannya.

Contoh perhitungan zakat yang dikecualikan (Zakat pertanian dan buah-buahan) :

Misalnya, jika seorang muslim memiliki 35 ekor kambing, maka ia tidak diwajibkan zakat karena nishab bagi kambing itu 40 ekor. Kemudian jika kambing-kambing tersebut berkembang biak sehingga mencapai 40 ekor, maka kita mulai menghitung satu tahun setelah sempurna nishab tersebut.

Nishab, Ukuran dan Cara Mengeluarkan Zakatnya

1.   Nishab emas

Nishab emas sebanyak 20 dinar. Dinar yang dimaksud adalah dinar Islam.
1 dinar = 4,25 gr emas
Jadi, 20 dinar = 85 gr emas murni.

Dalil nishab ini adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

"Tidak ada kewajiban atas kamu sesuatupun – yaitu dalam emas – sampai memiliki 20 dinar. Jika telah memiliki 20 dinar dan telah berlalu satu haul/tahun, maka terdapat padanya zakat ½ dinar. Selebihnya dihitung sesuai dengan hal itu, dan tidak ada zakat pada harta, kecuali setelah satu haul.” [HR. Abu Daud, Tirmidzi]

Dari nishab tersebut, diambil 2,5% atau 1/40. Dan jika lebih dari nishab dan belum sampai pada ukuran kelipatannya, maka diambil dan diikutkan dengan nishab awal. Demikian menurut pendapat yang paling kuat.

Contoh:
Seseorang memiliki 87 gr emas yang disimpan. Maka, jika telah sampai haulnya, wajib atasnya untuk mengeluarkan zakatnya, yaitu 1/40 x 87gr = 2,175 gr atau uang seharga tersebut.

2. Nishab perak

Nishab perak adalah 200 dirham. Setara dengan 595 gr, sebagaimana hitungan Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ 6/104, dan diambil darinya 2,5% dengan perhitungan sama dengan emas.

3. Nishab binatang ternak

Syarat wajib zakat binatang ternak sama dengan di atas, ditambah satu syarat lagi, yaitu binatangnya lebih sering digembalakan di padang rumput yang mubah daripada dicarikan makanan.

"Dan dalam zakat kambing yang digembalakan di luar, kalau sampai 40 ekor sampai 120 ekor…" [HR. Bukhari]

Sedangkan ukuran nishab dan yang dikeluarkan zakatnya adalah sebagai berikut:

a. Onta
Nishab onta adalah 5 ekor.
Dengan pertimbangan di negara kita tidak ada yang memiliki ternak onta, maka nishab onta tidak kami jabarkan secara rinci.

b. Sapi
Nishab sapi adalah 30 ekor. Apabila kurang dari 30 ekor, maka tidak ada zakatnya.

Cara perhitungannya adalah sebagai berikut:

30-39 ekor, jumlah yang dikenakan zakat 1 ekor tabi’ atau tabi’ah
40-59 ekor, jumlah yang dikenkan zakat 1 ekor musinah
60 ekor, jumlah yang dikenakan zakat 2 ekor tabi’ atau 2 ekor tabi’ah
70 ekor, jumlah yang dikenakan zakat 1 ekor tabi dan 1 ekor musinnah
80 ekor, jumlah yang dikenakan zakat 2 ekor musinnah
90 ekor ,  jumlah yang dikenakan zakat 3 ekor tabi’
100 ekor ,  jumlah yang dikenakan zakat 2 ekor tabi’ dan 1 ekor musinnah

Keterangan:
Tabi’ dan tabi’ah adalah sapi jantan dan betina yang berusia setahun.
Musinnah adalah sapi betina yang berusia 2 tahun.
Setiap 30 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor tabi’ dan setiap 40 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor musinnah.

c. Kambing

Nishab kambing adalah 40 ekor. Perhitungannya adalah sebagai berikut:

40 ekor, jumlah yang dikenakan zakat 1 ekor kambing
120 ekor, jumlah yang dikenakan zakat 2 ekor kambing
201 – 300 ekor, jumlah yang dikenakan zakat 3 ekor kambing
> 300 ekor, jumlah yang dikenakan zakat setiap 100, 1 ekor kambing

4. Nishab hasil pertanian

Untuk  Nisahab zakat pertanian akan dijelaskan InsyaAllah pada artikel berikutnya.

5. Nishab barang dagangan

Pensyariatan zakat barang dagangan masih diperselisihkan para ulama. Menurut pendapat yang mewajibkan zakat perdagangan, nishab dan ukuran zakatnya sama dengan nishab dan ukuran zakat emas.

Adapun syarat-syarat mengeluarkan zakat perdagangan sama dengan syarat-syarat yang ada pada zakat yang lain, dan ditambah dengan 3 syarat lainnya:
  1. Memilikinya dengan tidak dipaksa, seperti dengan membeli, menerima hadiah, dan yang sejenisnya.
  2. Memilikinya dengan niat untuk perdagangan.
  3. Nilainya telah sampai nishab.
Seorang pedagang harus menghitung jumlah nilai barang dagangan dengan harga asli (beli), lalu digabungkan dengan keuntungan bersih setelah dipotong hutang.

Misalnya:

Seorang pedagang menjumlah barang dagangannya pada akhir tahun dengan jumlah total sebesar Rp. 200.000.000 dan laba bersih sebesar Rp. 50.000.000. Sementara itu, ia memiliki hutang sebanyak Rp. 100.000.000. Maka perhitungannya sebagai berikut:

Modal – Hutang:
Rp. 200.000.000 – Rp. 100.000.000 = Rp. 100.000.000

Jadi jumlah harta zakat adalah:
Rp. 100.000.000 + Rp. 50.000.000 = Rp. 150.000.000

Zakat yang harus dibayarkan:
Rp. 150.000.000 x 2,5 % = Rp. 3.750.000

6. Nishab harta karun

Harta karun yang ditemukan, wajib dizakati secara langsung tanpa mensyaratkan nishab dan haul, berdasarkan keumuman sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

"Dalam harta temuan terdapat seperlima (1/5) zakatnya." (HR. Muttafaqun alaihi)

Cara Menghitung Nishab

Dalam menghitung nishab terjadi perbedaan pendapat. Yaitu pada masalah, apakah yang dilihat nishab selama setahun ataukah hanya dilihat pada awal dan akhir tahun saja?

Imam Nawawi berkata,

"Menurut mazhab kami (Syafi’i), mazhab Malik, Ahmad, dan jumhur,

Di syaratkan pada harta yang wajib dikeluarkan zakatnya yang berpedoman pada hitungan haul, seperti: emas, perak, dan binatang ternak, dimana keberadaan nishabnya pada haul (selama setahun). Dengan begitu kalau nishab tersebut berkurang pada satu ketika dari haul, maka terputuslah hitungan haul. Dan kalau sempurna lagi setelah itu, maka dimulai lagi perhitungannya ketika telah sempurna nishab tersebut." [Dinukil dari Sayyid Sabiq dari ucapannya dalam Fiqh as-Sunnah 1/468]. Inilah pendapat yang rajih paling kuat, Insya Allah.

Misalnya nishab tercapai pada bulan Muharram 1423 H, lalu bulan Rajab pada tahun itu ternyata hartanya berkurang dari nishabnya. Maka dengan itu terhapuslah perhitungan nishabnya. Kemudian pada bulan Ramadhan (pada tahun itu juga) hartanya bertambah hingga mencapai nishab, maka dimulai lagi perhitungan pertama dari bulan Ramadhan tersebut. Demikian seterusnya sampai mencapai satu tahun sempurna, kemudian dikeluarkannya zakatnya.

Demikian ulasan singkat mengenai zakat yang berkaitan dengan harta.

Wallahu'alam,

----------------------

Untuk informasi lebih, bisa lihat di :

    http://almanhaj.or.id/?keyword=nishab&x=0&y=0
    http://majalah-assunnah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=172
Share This:    Facebook  Twitter  Google+

0 komentar:

Posting Komentar