Random

Memuat...

Silahkan ketik keyword Anda

Arsip

Senin, 27 Oktober 2014

Konsep Nazar yang Keliru

           4 comments   
Ketika ingin mendapatkan sesuatu yang benar-benar diinginkan, adalah wajar bila kita berusaha untuk mendapatkannya. Tidak hanya itu, sebagian orang malah menyempurnakan lagi keinginan mereka dengan berbagai macam doa. Siang dan malam, seakan tak pernah bosan sampai keinginan tersebut dapat diwujudkan.

Hal tersebut sah-sah saja, malah doa lebih ditekankan lagi, karena dengan berdoa itulah akan membuktikan kita ini adalah hamba yang lemah, dan sangat butuh sekali akan dikabulkannya doa-doa tersebut.

Hanya saja dalam berdoa, secara tidak sadar kita sering berniat menunaikan suatu kebaikan seandainya doa kita itu dikabulkan, atau biasa disebut nazar / bernazar. Contoh : “Seandainya saya lulus dalam ujian ini, saya akan bersedekah sekian dan sekian..”

Nazar bisa juga dikatakan suatu imbalan atau kompensasi dalam bentuk perbuatan ibadah yang kita niatkan seandainya keinginan kita dipenuhi.

Mengenai tata cara dan bagaimana sesuatu itu bisa dikatakan nazar, serta jenis dan tujuan nazar itu bisa kita pelajari sendiri. Namun yang kita sering luput ternyata nazar / bernazar itu adalah suatu perbuatan yang tidak disukai Allah, walaupun tidak termasuk dalam perbuatan yang dikategorikan haram.

Beberapa dalil tentang nazar ini diantaranya :


“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk bernazar, beliau bersabda: ‘Nazar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu. Nazar hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil (pelit)’.” (HR. Bukhari no. 6693 dan Muslim no. 1639)

“Janganlah bernazar. Karena nazar tidaklah bisa menolak takdir sedikit pun. Nazar hanyalah dikeluarkan dari orang yang pelit.” (HR. Muslim no. 1640)

“Sungguh nazar tidaklah membuat dekat pada seseorang apa yang tidak Allah takdirkan. Hasil nazar itulah yang Allah takdirkan. Nazar hanyalah dikeluarkan oleh orang yang pelit. Orang yang bernazar tersebut mengeluarkan harta yang sebenarnya tidak ia inginkan untuk dikeluarkan.” (HR. Bukhari no. 6694 dan Muslim no. 1640)

Jadi nazar / bernazar tersebut dapat disimpulkan :
  1. Nazar tersebut adalah perbuatan yang menyebabkan suatu yang hukumnya tidak wajib , tetapi menjadi wajib dilaksanakan seandainya tujuan dari nazar tersebut terwujud.
  2. Nazar itu adalah suatu sifat yang dilekatkan kepada orang yang bakhil / pelit dalam melaksanakan ibadah kepada Allah, karena ibadah yang ditunaikan tersebut hanya dilakukan sebatas tercapainya tujuan dari nazar itu sendiri.
  3. Akan menimbulkan kewajiban lain jika sepelaku nazar tidak mampu menunaikan nazar yang telah diniatkan, yaitu berupa kafarat.
  4. Mengurangi makna doa, karena doa yang disyariatkan tersebut adalah doa yang di panjatkan dari hati yang paling dalam, dengan pengharapan dan keyakinan yang sangat besar bahwa doa itu dikabulkan.
Wallahualam bi shawab,

Referensi :

Muhammad Elvy Syam, Lc 27.10.14, Bab Nazar.
Muhammad Abduh Tuasikal, MSc , Seputar Hukum Nazar
Share This:    Facebook  Twitter  Google+

4 komentar:

  1. Aku pas SMP bernazar bakalan puasa pas lulus UN.. Tapi kata guru agama, itu ngga sah karena meskipun uda baligh tapi aku masih belom paham konsep nazar. Bener ngga sih?

    BalasHapus
  2. Lebih detilnya bisa lihat dsini :http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/seputar-hukum-nadzar.html

    BalasHapus
  3. thanks gan atas pencerahannya, jadi begitu ya sebetulnya sebuah nazar itu... salam yuli

    BalasHapus
  4. mudah mudahan dengan artikel ini jadi paham mbak beby...

    BalasHapus