Random

Memuat...

Silahkan ketik keyword Anda

Arsip

Rabu, 24 Desember 2014

Menikah Dengan Sepupu

           10 comments   
Beberapa kalangan masyarakat sering mengharamkan suatu hal yang telah di halalkan dalam syariat, salah satunya adalah pandangan dalam menikahi saudara sepupu, baik dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu.

Dalam Islam telah ditegaskan bahwa sepupu itu (anak dari saudara ayah / ibu, baik saudara perempuan ataupun saudara laki-laki) bukanlah mahram. Adapun dalil Alquran yang mendukung :

QS An Nisa (Ayat 22) :
Dan janganlah kamu menikahi perempuan-perempuan yang telah dinikahi oleh ayahmu, kecuali (kejadian) pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu sangat keji dan dibenci dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).  

(Ayat 23) :
Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara ayahmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara-saudara perempuanmu sesusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak perempuan dari istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu menikahinya, (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan diharamkan mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 

(ayat 24) :
Dan (diharamkan juga kamu menikahi) perempuan yang bersuami, kecuali budak-budak perempuan (tawanan perang) yang kamu miliki sebagai ketetapan Allah atas kamu. Dan dihalalkan bagimu selain (perempuan-perempuan) yang demikian itu jika kamu berusaha dengan hartamu untuk menikahinya bukan untuk berzina. 

Dalil penguat lainnya di ungkap dalam QS Al Ahzhab : 50
........ dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu.

Meskipun bentuk redaksi di awal ayat ditujukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, namun ini juga berlaku bagi umat beliau, karena asal hukum di dalam redaksi jika ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka umat Islam masuk dan ikut di dalamnya. Kecuali jika ada dalil yang menunjukkan kepada pengkhususan sebuah hukum hanya untuk Nabi  Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Sedangkan faktor lain yang melarang pernikahan dengan sepupu disebabkan adanya keyakinan bahwa menikahi wanita yang memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat, justru akan merusak keturunan secara genetika, seperti banyaknya penyakit atau cacat pada anak yang akan dilahirkan.

Akan tetapi para ahli hadist membantah argumen tersebut. Isu-isu seperti ini ditepis setelah dilakukan berbagai penelitian yang memang tidak pernah terbukti sampai saat ini. Secara syariat dapat dikatakan, jika seandainya berbahaya dan menimbulkan mudhorat bagi kemaslahatan hidup manusia, tentu Allah tidak akan menghalalkan yang demikian. Prinsipnya, Islam diturunkan bukan untuk menimbulkan berbagai kerusakan di bumi ini.

Sebenarnya perkara kerusakan akibat perkawinan terhadap kerabat dekat, seperti menikah dengan sepupu itu tidak terlepas dari dari taqdir Allah, dan berbagai faktor bawaan pasangan tersebut.

Namun yang jelas, tidak ada kelebihan atau keutamaan dalam Islam untuk menikahi wanita yang punya kekerabatan dekat, ataupun yang tidak ada hubungan kekerabatan sama sekali.

Sedangkan keutamaan yang disyariatkan untuk menikahi wanita tersebut adalah berdasarkan harta, kecantikan, keturunan, dan agama. Maka yang paling dulu diutamakan adalah faktor agama demi kebaikan masa yang akan datang.

Seperti sebuah pertanyaan yang di ajukan,

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah ditanya oleh seorang wanita :
"Seorang lelaki masih ada hubungan kerabat dengan saya datang melamar saya, tetapi saya mendengar bahwa menikah dengan orang jauh yang tidak memiliki hubungan kekerabatan lebih baik. Bagaimana pendapat syaikh dalam masalah ini ?".

Jawaban :

Sebagian ulama menyebutkan bahwa hubungan kekerabatan mempengaruhi dalam bentuk ciptaan dan karakter, oleh sebab itu tatkala seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan bertanya :

"Wahai Rasulullah, istri saya melahirkan anak berkulit hitam padahal kedua orang tuanya berkulit putih", maka beliau menjawab : "Apakah kamu mempunyai onta ?, Ia menjawab : "Ya". Beliau bersabda : "Apa saja warnanya". Ia berkata : "Ada yang merah". Beliau bersabda : "Apakah ada yang berwarna abu-abu ?". Ia berkata : "Ya". Beliau bersabda : "Dari manakah demikian itu ?" Ia berkata : "Mungkin itu pengaruh keturunan". Maka Rasulullah bersabda : "Anakmu itu mungkin juga karena pengaruh keturunan".

Hadits diatas menunjukkan bahwa keturunan memiliki pengaruh dalam pernikahan, tetapi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Wanita dinikahi empat ; hartanya, nasabnya, kecantikannya dan agamanya. Dan pilihlah karena agamanya, jika tidak, maka kamu akan menemukan kecelakaan".

Yang menjadi ukuran utama dalam memilih wanita adalah agama. Semakin bagus agamanya, maka semakin berkah untuk dinikahi, baik ada hubungan kerabat atau orang lain. Agama yang bagus akan membuat wanita yang dinikahi tersebut akan bertanggung jawab dalam menjaga rumah, harta, dan anak, serta akan melindungi pandangannya dari yang diharamkan Allah.

[Fatawa Al-Mar'ah, hal.57]

Jadi berdasarkan dalil yang jelas diatas, maka sebagai muslim tidaklah selayaknya kita mengharamkan sesuatu yang telah di halalkan, atau menghalalkan suatu yang diharamkan Allah. Yang pasti, segala sesuatu yang dihalalkan itu jelas mengandung kebaikan atau manfaat. Sedangkan suatu yang diharamkan akan membawa kepada keburukan atau mudharat.

Wallahu 'alam bi showab.

PS: Bagi rekan yang punya sepupu yang kebetulan saling suka, bagus dalam agama dan akhlak, ngapain juga malu-malu, atau jauh-jauh nyari sana-sini. Mungkin ini lebih baik karena telah menolong kerabat sendiri dari hidup melajang. Lagi pula pernikahan model begini akan semakin mempererat silaturahmi, asal niat dan pelasksanaannya benar. Cuma hati-hati saja, kekacauan dalam pernikahan seperti ini akan berpengaruh sekali terhadap hubungan persaudaraan di keluarga besar tentunya. :)

Sumber :
  1. http://www.tafsir.web.id, QS : An Nisa ayat 23-24,  QS Al Ahzhab ayat 50
  2. http://almanhaj.or.id/content/553/slash/0/ayah-memaksa-putranya-menikah-pernikahan-dan-masa-depan-anak/
  3. http://dakwahsunnah.com/artikel/tanyajawab/50-hukum-menikahi-sepupu

Share This:    Facebook  Twitter  Google+

10 komentar:

  1. Hore, boleh nikah sama sepupu! o/ Eh tapi, sepupu idolaku sudah pada menikah semua jeee... :((

    wew.. :D

    BalasHapus
  2. Terima kasih informasinyabedanya mahram sama muhrim apa

    Muhrim dan mahram, adalah dua istilah yang sering terbalik-balik dalam masyarakat. Terutama mereka yang kurang perhatian dengan bahasa Arab. Padahal dua kata ini artinya jauh berbeda. Memang teks arabnya sama, tapi harakatnya beda.

    1. Muhrim (huruf mim dibaca dhammah dan ra’ dibaca kasrah) artinya orang yang melakukan ihram. Ketika jamaah haji atau umrah telah memasuki daerah miqat, kemudian dia mengenakan pakaian ihramnya dan menghindari semua larangan ihram, orang semacam ini disebut muhrim. Dari kata Ahrama – yuhrimu – ihraaman – muhrimun.

    2. Mahram (huruf mim dan ra’ dibaca fathah) artinya orang yang haram dinikahi karena sebab tertentu.

    Ustad Amni Nur Baits, ST, (Mahasiswa Jurusan Fikih dan Ushul Fikih, Madinah International University)

    BalasHapus
  3. Tapi rasanya sama sepupu sendiri menikah agak gimana gitu, Bang.. :p

    Emang udah dicoba belum? ;)

    BalasHapus
  4. tapi rasanya canggung juga Mas kalaumenikah dengan saudara sepupu sendiri, soalnya dalam keluarga besar saya pertemuan antar saudara saudara selalu dilakukan sebulan sekali, jadi sudah begitu akrap dan seperti adik kakak kandung sendiri.

    BalasHapus
  5. Sepupu bukan mahram halam dan bisa untuk dinikahi, hal ini pernah saya dengar. Setelah memabca kembali dalam ulasan ini, terasa diingatkankembali. Terimkasih atas sharingnya ya mas.

    BalasHapus
  6. Raaifa... nama domainnya nyubhat sih jadi dipanggil mbak :D

    BalasHapus
  7. Iya benar nih, memang sering tertukar-tukar antara muhrim dan mahram.

    BalasHapus
  8. alhamdulillah, terimakasih mas atas penjelasannya ...jika ilmu disertai dengan ayat al-qur'an tidak diragukan lagi kebenarannya ...

    BalasHapus
  9. Pulang ka bako, kata orang Minang. Tapi sebagian Minang tidak berkenan dengan pernikahan sepupu krn khawtir kekeluargaan menjadi tidak berkembang.

    BalasHapus