Random

Memuat...

Silahkan ketik keyword Anda

Arsip

Rabu, 14 Januari 2015

Wujud Cinta dan Penghinaan

           4 comments   

Jika ada yang marah terhadap pelecehan atau penghinaan terhadap orang yang dimuliakan, itu suatu yang wajar dan merupakan salah satu bentuk kecintaan. Ini mencakup semua aspek kehidupan, tidak terkecuali itu untuk suatu prinsip yang diyakini. Tentunya kecintaan yang berhubungan dengan keyakinan sangat besar pengaruhnya dari sisi psikologis.

Seperti kejadian penembakan 12 orang di Perancis minggu lalu. Penembakan tersebut dilatari pembalasan atas penghinaan yang dilakukan terhadap tokoh panutan dan teladan umat Islam, Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam. Kedua belas orang tersebut tewas terbunuh di kantor majalah Charlie Hebdo, Paris.

Diantara para korban tersebut, terdapat beberapa kartunis yang selama ini dikenal berani dalam menyajikan sindiran radikal. Keberanian mereka dilatari kebebasan berekspresi, entah itu wujud dari kebencian, atau ada maksud lainnnya. Yang pasti sasaran mereka cukup sensitif yang ditujukan ke siapa saja, baik itu pada para pemimpin agama ataupun pemimpin politik dalam wujud karikatur.

Faktanya, Stephane Charbonnier (salah satu korban) - pimpinan redaksi, sebelumnya juga pernah melakukan penghinaan yang sama bersama kartunis lainnya, dan ini sudah terjadi berulang-ulang. Malah penghinaan tersebut juga diikuti dengan berbagai komentar yang menyakitkan, mulai dari gambaran Islam itu sendiri, sampai kepada penghinaan terhadap konsep peribadahan dan pokok-pokok yang menyangkut kepada keyakinan umat Islam.

Kasus ini telah menjadi polemik di kalangan umat Islam. Ada banyak pihak yang membenarkan dan  mendukung eksekusi tersebut, ada juga pihak yang menyayangkan. Berbagai perbedaan pandangan ini bukan merupakan perbedaan sikap terhadap pelecehan dan penghinaan yang diterima, tetapi lebih kepada perbedaan dalam menunjukkan reaksi dan tindakan apa seharusnya di ambil.

Namun apapun yang dipilih, polemik tersebut tidak lain karena kecintaan kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam selaku junjungan tertinggi, tauladan bagi umat Islam dimanapun.

Hukuman mati bagi penghina Nabi Shalallahu alaihi wassalam,

Adapun perbedaan itu salah satunya adalah pandangan penerapan hukuman mati itu sendiri. Pihak yang membenarkan bisa jadi bersandar kepada kesepakatan para ulama bahwa penghina Nabi MuhammadShalallahu alaihi wassalam, hukumnya adalah dibunuh. Ini sejalan dengan apa yang dikemukan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dalam Sharimul Maslul ( dr. Raehanul Bahraen) :

"Orang yang mencela Nabi Shalallahu alaihi wassalam baik Muslim atau kafir ia wajib dibunuh. Ini adalah madzhab mayoritas ulama. Ibnu Munzir mengatakan:  mayoritas ulama sepakat bahwa hukuman bagi pencela Nabi Shalallahu alaihi wassalam adalah dibunuh. Diantara yang berpendapat demikian adalah Malik, Al Laits, Ahmad, Ishaq, dan ini juga merupakan pendapat madzhab Syafi’i. Ibnul Munzir juga berkata: dan diriwayatkan dari An Nu’man bahwa ia berpendapat pencela Nabi (jika kafir dzimmi) tidak dibunuh, karena justru mereka sudah memiliki hal yang lebih parah yaitu kesyirikan"

“Seorang wanita Yahudi mencela Nabi Shalallahu alaihi wassalam dan mencaci maki beliau, kemudian seorang laki-laki mencekiknya sampai mati, maka Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam membatalkan (hukuman atas) penumpahan darah wanita itu” (Sunan Abi Dawud, XII/17, no. 4340)

Namun beberapa ulama berbeda pendapat ketika ditanya tentang penembakan di Paris, seperti Syaikh Shalih Fauzan Ibn Abdillah al-Fauzaan (anggota dewan ulama Saudi Arabia). Syaikh Fauzan menyatakan bahwa aksi itu tidak bisa dibenarkan, malah justru akan semakin memicu kebencian terhadap umat Islam. Untuk tindakan yang akan dilakukan, beliau mengemukakan hendaklah membantah syubhat (keragu-raguan) mereka, serta menjelaskan kehinaan-kehinaan mereka. Sedangkan pembelaan dengan senjata atas nama jihad di jalan Allah, ini merupakan kewenangan dari pemerintah kaum muslimin (penguasa), bukan kewenangan pribadi atau individu.  (Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/1960)

Sementara pendapat ulama lain seperti Syaikh Abdurrahman al-Barrak hafidzahullah menyatakan :

“Jika orang yang mencela Nabi Shalallahu alaihi wassalam adalah orang kafir yang tidak memerangi kaum muslimin, misalnya  orang Nasrani atau Yahudi, maka orang ini berarti telah membatalkan kesepakatan damai dengannya, sehingga wajib dibunuh. Akan tetapi, yang melakukan hal itu adalah pemimpin” (Sumber: http://islamqa.info/ar/14305).

Cinta

Islam adalah agama yang di bawa oleh Nabi Shalallahu alaihi wassalam, dimana beliau menyampaikan seluruh yang berhubungan dengan kemaslahatan hidup manusia langsung dari Allah melalui utusannya-Nya (Jibril). Dari beliaulah umat Islam itu bisa mengetahui apa-apa yang selama ini gelap, sekarang menjadi terang benderang akan ilmu dan hikmah tentang keselamatan dunia dan akhirat.

Sementara perkataan dan perbuatan Nabi Shalallahu alaihi wassalam adalah wahyu, dan tidaklah beliau berkata dan berbuat dengan hawa nafsu. Maka sepantasnyalah seorang Islam itu mencintai dan mengagungkan beliau atas keutamaan yang beliau miliki. Karena kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu poin pokok dari keimanan.

"Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia." (HR. Bukhari I/14 no.15, dan Muslim I/167 no.44)

"Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah, adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri." Nabi Shalallahu alaihi wassalam bersabda, 'Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di TanganNya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri'’. Maka Umar berkata kepada beliau, 'Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.' Maka Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, 'Sekarang telah sempurna kecintaanmu (imanmu) padaku wahai Umar.” (HR. Bukhari VI/2445 no.6257)

Namun beliau, Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam adalah manusia biasa, hanya saja beliau dilebihkan dan diutamakan karena wahyu diturunkan melalui beliau untuk memperbaiki akhlak dan kehidupan manusia. Maka dengan itu beliau tidak boleh disembah. Kecintaan kepada beliau diharamkan jika kecintaan tersebut sampai kepada menaikkan beliau kepada derajat ketuhanan.

Atas dasar itulah mengapa penggambaran terhadap diri dan figur beliau dilarang guna pencegahan terjadinya penyembahan. Sedangkan bukti dan wujud kecintaan bagi umatnya, bagaimana seorang muslim tersebut menjalan perintah dan meninggalkan semua larangan Allah berdasarkan apa yang telah beliau sampaikan. Tidak dilebih-lebihkan, dan tidak pula dikurang-kurangkan. Wujud kecintaan lain terhadap Nabi Shalallahu alaihi wassalam adalah bagaimana kita bisa mencintai sesuatu dan membenci sesuatu itu berdasarkan apa yang beliau cintai dan apa-apa yang beliau benci.

Kesimpulan

Penggambaran wujud Nabi Shalallahu alaihi wassalam dengan hal yang tidak sepantasnya disertai pelecehan dan penghinaan adalah suatu kemungkaran yang nyata. Sedangkan usaha dalam pencegahan kemungkaran tersebut adalah bagian dari jihad.

Namun sebagai muslim, perlu dipahami lagi kaidah pencegahan kemungkaran dengan cara membunuh, walaupun ada dalil yang membolehkannya.

Islam telah mengatur dengan jelas urusan menumpahkan darah seseorang atas suatu kemungkaran yang telah terjadi, dimana pelaksanaan hukum tersebut harus dilakukan oleh pemerintahan yang syah. Tidak boleh penerapan hukum membunuh ini dilakukan individu atau pribadi, sekalipun yang dibunuh itu kafir (non muslim).

Sebagai muslim yang telah disakiti, hendaklah menyerahkan urusan ini kepada pemerintah setempat dalam memutuskan ataupun menghentikannya. Jikalau pemerintah setempat tidak menghiraukan lantaran pemerintah tersebut bukanlah pemerintah Islam, hendaknya muslim tersebut bersabar.

"Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. al-Maidah: 105)

Dari Abu Sa'id Al Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda : "Barang siapa di antaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasaannya) ; jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya (menasihatinya) ; dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju) , dan demikian itu adalah selemah-lemah iman". (Muslim no. 49).

Maka dengan menahan diri terhadap tindakan tersebut, diharapkan umat Islam bisa menolak mudharat yang lebih besar dikemudian harinya.

Wallahu'alam,

Referensi :

  • http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/siapa-yang-berhak-menghukum-penghina-nabi-shallallahualaihi-wasallam.html

  • http://dakwah.info/quran-hadis/hadis-34-merubah-kemungkaran/

  • http://www.cnnindonesia.com/internasional/20150109101419-135-23461/kartun-nabi-mengapa-marah/
Share This:    Facebook  Twitter  Google+

4 komentar:

  1. Mikirnya kalok aku gini aja sih Bang, berharap mereka bakalan dapet hidayah kayak sutradara film Fitna.. :)

    BalasHapus
  2. saya sangat setuju!pelecehan gambar Nabi kita shallallahu 'alaihi wasallam merupakan kasus kejahatan yang sangat berat, bahkan penghinanya bisa dihukum mati.tapi eksekusi penyerangan kantor berita secara perorangan juga tidak dibenarkan, itu urusan penguasa.tulisan yang di CNN mantab ya mas

    BalasHapus
  3. Barusan saya baca status facebook Pak SBY, temanya juga sama.

    BalasHapus
  4. penghina Nabi harus dibumihanguskan mas ...

    BalasHapus