Random

Memuat...

Silahkan ketik keyword Anda

Arsip

Sabtu, 01 Oktober 2016

Cara Turunnya Wahyu Sebagai Sumber Risalah

           No comments   
Cara Turunnya Wahyu yang Merupakan Sumber Risalah
Secara umum wahyu bisa dikatakan pemberitahuan Allah kepada Rasul atau Nabi secara rahasia tentang syariat yang akan disampaikan, baik itu disampaikan dengan cara langsung ataupun melalui perantara.

Adapun Ibnul Qayyim menyatakan bahwa cara penyampaian wahyu tersebut ada bemacam-macam, diantaranya :

Pertama, berupa ar-ru'ya ash-shadiwah (mimpi yang benar), dan ini merupakan merupakan permulaan turunnya wahyu kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam, Muhammad bin Abdullah, bin Abdul Muthallib..

Kedua, berupa suatu yang dibisikkan oleh malaikat terhadap jiwa dan hati beliau tanpa beliau lihat. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam, "Sungguh Ruhul Quds (Malaikat Jibril 'Alaihisallam menghembuskan dan membisikkan kedalam hatiku, bahwa jiwa tidak akan mati hingga disempurnakan rezki baginya. Oleh karena itu bertaqwalah kalian kepada Allah, berindah-indahlah dalam meminta, serta janganlah keterlambatan rezki atas kalian mendorong kalian memintanya dengan cara melakukan perbuatan maksiat kepada-Nya, karena apa yang ada di sisi Allah tidak akan didapat kecuali dengan melakukan ketaatan kepada-Nya.

Ketiga, berupa malaikat yang berwujud seorang laki-laki, lantas mengajak beliau berbicara hingga beliau memahaminya dengan baik apa yang dikatakan kepadanya. Dalam hal ini terkadang para sahabat dapat melihat malaikat tersebut.

Keempat, berupa bunyi gemerincing lonceng yang datang kepada beliau,diikuti dengan malaikat (yang menyampaikan wahyu) secara samar. Cara ini merupakan cara yang paling berat beliau alami, sampai-sampai kening beliau berkerut dan bersimbah peluh, padahal penyampaian wahyu tersebut disaat hari yang sangat dingin. Demikian pula menyebabkan unta beliau duduk bersimpuh ke bumi bila beliau sedang menungganginya. Pernah suatu kali wahyu datang dengan cara tersebut, dimana saat itu belau sedang berada diatas paha Zaid bin Tsabit, sehingga Zaid merasakan beban yang sangat berat yang hampir saja membuatnya remuk.

Kelima, berupa malaikat yang dalam bentuk  yang beliau lihat langsung bentuk aslinya, lalu diwahyukan kepada beliau wahyu yang dikehendaki oleh Allah. Peristiwa ini dialami oleh beliau sebanyak dua kali sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam surat an-Najm.

Keenam, berupa wahyu yang di wahyukan Allah kepada beliau. Yaitu disaat beliau berada diatas lelangit pada malam mi'raj ketika diwajibkan shalat dan lainnya.

Ketujuh, berupa Kalamullah (ucapan Allah) kepada beliau tanpa perantara malaikat, sebagaimana Allah berbicara kepada nabi Musa 'Alaihisallam, dan diabadikan secara qath'i berdasarkan nash Alquran. Sedangkan kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam terjadi dalam hadits  tentang peritiwa Isra'

Sebagian ulama menambah caranya menjadi delapan, yaitu Allah berbicara langsung kepada beliau Shalallahu 'alaihi wasallam langsung tanpa hijab. Ini merupakan permasalahan yang diperdebatkan oleh ulama salaf dan khalaf.

Demikian sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnul Qayyim dengan sedikit diringkas dalam penjelasan urutan yang pertama dan kedelapan. Pendapat yang benar bahwa urutan ke delapan atau yang terakhir adalah tidak tsabit (tidak valid dan tidak dipercaya keabsahan riwayatnya).

[Syaikh Syafiyyurrahman al-Mubarakfuri.  2016. Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung, Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam, dari Kelahiran hingga Detik-detik Teakhir.  Darul Haq, Cetakan XIX. Jakarta. (Hal. 89-91)]
Share This:    Facebook  Twitter  Google+

0 komentar:

Posting Komentar